Hidup di Dunia : Menjadi Orang Asing, Musafir, dan Penderma di Jalan Allah
Font Terkecil
Font Terbesar
Hadits Rasulullah ﷺ tentang hidup sebagai orang asing dan musafir sering terdengar di mimbar dan pengajian. Namun semakin sering dikutip, semakin sering pula ia disalahpahami. Sebagian menjadikannya alasan untuk menjauh dari dunia, sementara sebagian lain mengabaikannya karena dianggap tidak relevan dengan kehidupan modern. Padahal, hadits ini justru mengajarkan cara hadir di dunia tanpa diperbudak olehnya.
Rasulullah ﷺ bersabda :
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari)
Menariknya, Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada istilah musafir, tetapi juga menyebut orang asing. Keasingan ini bukan sesuatu yang baru dalam Islam. Bahkan, Rasulullah ﷺ sejak awal telah menggambarkan Islam sebagai jalan yang asing di tengah arus mayoritas.
Beliau bersabda :
بَدَأَ الإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka berbahagialah orang-orang yang asing (ghurabā’).” (HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa menjadi “asing” bukan kegagalan beragama, melainkan konsekuensi konsistensi iman. Orang-orang yang tetap memegang nilai Islam ketika mayoritas menjauh darinya disebut Rasulullah ﷺ sebagai ghurabā’, dan justru mereka yang mendapatkan kabar gembira.
Orang asing yang dimaksud bukanlah mereka yang menarik diri dari masyarakat, melainkan mereka yang berbeda dalam orientasi dan nilai. Mereka tetap hidup di tengah masyarakat, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai ukuran keberhasilan. Dalam konteks inilah orang asing menjaga kejujuran ketika kecurangan dinormalisasi, memilih cukup ketika keserakahan dipuji, dan mendahulukan manfaat ketika kepemilikan diagungkan.
Namun Rasulullah ﷺ melengkapinya dengan perumpamaan musafir. Musafir adalah orang yang sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan. Ia tidak membangun rumah permanen, tidak menumpuk barang, dan tidak menunda bekal. Kesadaran ini membuatnya fokus pada tujuan akhir. Karena itulah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menasihatkan agar manusia tidak bergantung pada kepastian esok hari, seolah-olah hidup ini tidak akan berakhir.
Kesadaran sebagai ghurabā’ menjaga nilai, kesadaran sebagai musafir menjaga arah. Dari sinilah lahir sikap hidup yang seimbang: dunia tidak ditinggalkan, tetapi juga tidak disembah.
Al-Qur’an sendiri menegaskan keseimbangan ini :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah dengan apa yang Allah berikan kepadamu kebahagiaan akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menolak dua sikap ekstrem: mengkultuskan dunia atau menolaknya. Dunia diakui, tetapi diarahkan. Persoalannya, banyak manusia berhenti pada pengakuan, tetapi gagal pada pengarahan. Dunia dikejar, harta dikumpulkan, tetapi semuanya berhenti pada diri sendiri.
Padahal Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela harta. Beliau justru bersabda :
نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ
“Sebaik-baik harta adalah harta yang berada di tangan orang saleh.” (HR. Ahmad)
Harta yang baik bukan diukur dari banyaknya, tetapi dari ke mana ia mengalir. Harta yang disimpan menumbuhkan rasa memiliki, sementara harta yang didermakan di jalan Allah menumbuhkan kesadaran sebagai musafir.
Al-Qur’an bahkan menyebut derma sebagai pinjaman kepada Allah :
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakannya.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Ungkapan ini membongkar ilusi kepemilikan manusia. Jika harta benar-benar milik kita, mengapa Allah menyebut sedekah sebagai pinjaman kepada-Nya? Karena pada hakikatnya, yang benar-benar menjadi milik manusia hanyalah apa yang ia relakan untuk Allah.
Rasulullah ﷺ menegaskan :
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)
Musafir tidak takut kehilangan, karena ia tahu bahwa bekal sejatinya bukan yang dibawa di tangan, melainkan yang diserahkan kepada Allah.
Spirit inilah yang hidup dalam ungkapan KH. Ahmad Dahlan :
“Jangan berharap menjadi kaya, tetapi berusahalah untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain.”
Kalimat ini bukan ajakan meninggalkan dunia, melainkan kritik tajam terhadap orientasi hidup. Kekayaan bukan tujuan, manfaatlah tujuannya. Dan manfaat hanya lahir ketika dunia, terutama harta, didermakan di jalan Allah, bukan ditimbun demi rasa aman pribadi.
Di sinilah hadits tentang ghurabā’ dan musafir bertemu: menjadi asing dalam nilai, berjalan sebagai musafir dalam hidup, dan menjadikan dunia sebagai sarana derma. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa dunia dan isinya tercela kecuali yang mengantarkan kepada Allah. Artinya, dunia yang menjauhkan manusia dari kepedulian sosial dan nilai ilahi itulah yang bermasalah.
Maka hidup sebagai orang asing dan musafir bukanlah ajakan untuk menjauh dari kehidupan, melainkan untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran dan keberanian moral. Dunia tetap dikerjakan, harta tetap dicari, tetapi semuanya diarahkan untuk mengalir, memberi, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dengan cara inilah seorang muslim hidup di dunia tanpa menetap di dalamnya, dan berjalan menuju akhirat tanpa meninggalkan tanggung jawab kemanusiaan.
.png)
