Ketika Kebaikan Dijadikan Izin Berbuat Haram : Moral Licensing dalam Cahaya Al-Qur’an
Font Terkecil
Font Terbesar
Ada satu jebakan moral yang sangat halus, licik, dan sering menyamar sebagai kebaikan. Ia tidak datang dengan wajah maksiat, melainkan dengan cahaya, pujian, dan rasa puas diri. Dalam psikologi modern ia disebut moral licensing. Dalam tradisi Islam, jebakan ini sudah lama dikenali—bahkan dilawan—oleh para wali. Salah satu kisah paling kuat datang dari Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani.
Iblis yang Datang dengan Cahaya
Dikisahkan, suatu ketika Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani sedang beribadah dengan sangat tekun. Tiba-tiba, tampaklah cahaya besar memenuhi ruangan. Dari cahaya itu terdengar suara berkata :
“Wahai ‘Abdul Qadir, Akulah Tuhanmu. Karena ibadahmu begitu banyak dan kebaikanmu begitu besar, Aku halalkan bagimu hal-hal yang haram bagi orang lain.”
Bayangkan betapa halus godaan ini. Bukan ajakan maksiat terang-terangan, tapi lisensi moral: karena engkau sudah sangat baik, aturan tak lagi berlaku bagimu. Namun Syaikh ‘Abdul Qadir tidak terpesona. Ia menjawab tegas :
اِرْجِعْ يَا لَعِينُ فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
“Pergilah wahai terkutuk, sesungguhnya engkau adalah iblis yang terkutuk."
Cahaya itu lenyap. Iblis pun terbongkar.
Bagaimana Engkau Tahu Itu Iblis?
Murid-muridnya bertanya, “Bagaimana engkau tahu bahwa itu iblis, padahal ia datang dalam cahaya dan berbicara tentang Tuhan?” Syaikh ‘Abdul Qadir menjawab dengan satu ayat Al-Qur’an :
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِۗ
“Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kepada perbuatan keji.” (QS. Al-A‘raf: 28)
Jawaban ini sangat dalam. Bukan karomah, bukan firasat mistik, tapi prinsip moral Al-Qur’an.
Inilah Akar Moral Licensing
Apa yang dilakukan iblis dalam kisah ini adalah moral licensing versi spiritual. Logikanya sama :
"Engkau sudah beribadah begitu banyak, Engkau sudah berbuat kebaikan besar, Maka larangan tidak lagi mengikatmu"
Padahal justru di sinilah kebohongan terbesar. Al-Qur’an menegaskan bahwa kebaikan tidak pernah menjadi alasan untuk membatalkan ketaatan. Allah berfirman :
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدۡخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةً۬
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Tidak ada Islam parsial. Tidak ada ketaatan musiman. Tidak ada “pengecualian karena jasa”.
Moral Sebagai Ujian, Bukan Medali
Kesalahan banyak orang adalah mengira moral sebagai medali, bukan amanah. Semakin tinggi seseorang dalam ibadah, ilmu, atau pengaruh, semakin berat ujiannya, bukan semakin longgar aturannya.
Allah berfirman :
أَفَأَمِنُوٓا۟ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ
“Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A‘raf: 99)
Merasa “aman” karena amal adalah awal kehancuran moral.
Ketika Kebaikan Melahirkan Kesombongan Terselubung
Moral licensing sering tidak berbunyi: “Aku mau berbuat dosa.” Ia berbunyi :
“Niatku baik.” ,“Aku kan sudah banyak berkorban.” , “Orang lain lebih buruk.”
Padahal Allah memperingatkan :
فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Kesalehan yang dijadikan alasan untuk melanggar syariat bukanlah kesalehan— ia adalah kesombongan yang belum disadari.
Penutup : Iblis Tidak Selalu Mengajak ke Dosa
Kisah Syaikh ‘Abdul Qadir mengajarkan satu pelajaran besar :
Iblis paling berbahaya bukan yang mengajak maksiat, tetapi yang mengajak merasa suci. Ia datang dengan cahaya. Ia berbicara tentang Tuhan. Ia memuji amal. Lalu ia berkata: “Aturan tidak lagi berlaku bagimu.” Di situlah orang-orang baik bisa jatuh.
Maka setiap kali kita merasa:
“Aku boleh melakukan ini karena aku sudah banyak berbuat baik”
ingatlah satu ayat yang menghancurkan seluruh moral licensing :
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ
Allah tidak pernah memerintahkan keburukan — bahkan kepada hamba-Nya yang paling dekat.
.png)
