TERBARU
ADVERTISEMENT
Designed by IQRANOVA Creativa

Manunggaling Kawulo Gusti : Pesan Keadilan, Bukan Penyatuan Hamba dan Tuhan


Istilah Manunggaling Kawulo Gusti sering disalahpahami sebagai ajaran bersatunya manusia dengan Tuhan. Karena pemahaman inilah, ajaran ini kerap dikaitkan dengan kesesatan dan nama Syekh Siti Jenar. Padahal, menurut KH. Agus Sunyoto, pemahaman tersebut tidak melihat konteks sosial dan sejarah Jawa pada zamannya.

Dalam bahasa Jawa Kawulo berarti rakyat atau orang kecil, Gusti tidak hanya berarti Tuhan, tetapi juga sebutan bagi raja atau pejabat, Manunggal berarti menyatu atau setara. 

Dengan pemahaman ini, Manunggaling Kawulo Gusti lebih tepat dimaknai sebagai pesan bahwa rakyat dan penguasa harus diperlakukan setara, terutama di hadapan hukum dan keadilan.

Kritik terhadap Sistem Feodal

Pada masa itu, masyarakat hidup dalam sistem feodal. Penguasa berada di posisi sangat tinggi, sementara rakyat kecil berada di posisi rendah. Akibatnya, hukum berjalan tidak adil : rakyat kecil mudah dihukum, sementara pejabat dan bangsawan sering lolos dari hukuman.

Syekh Siti Jenar hadir membawa nilai Islam yang menolak ketidakadilan tersebut. Islam mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang kebal hukum, apa pun jabatannya.

Rasulullah ﷺ bersabda :

وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
 “Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa hukum tidak boleh tunduk pada kekuasaan atau garis keturunan.


Islam Menegakkan Kesetaraan

Islam tidak mengenal kasta sosial. Semua manusia memiliki kedudukan yang sama sebagai hamba Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya, bukan jabatannya. Al-Qur’an menegaskan :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

“Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Ḥujurāt: 13)

Karena itu, tidak boleh ada manusia yang diperlakukan seperti “gusti kecil” yang kebal hukum dan kritik.

Penegasan Akidah Secara Singkat 

Perlu ditegaskan, Islam tidak mengajarkan bahwa manusia bisa bersatu dengan Tuhan. Allah dan manusia tetap berbeda secara mutlak. Allah berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syūrā: 11)

Penegasan ini penting agar Manunggaling Kawulo Gusti tidak dipahami sebagai ajaran akidah, melainkan bahasa budaya untuk menyampaikan nilai keadilan Islam.

Mengapa Pesan Ini Ditolak ?

Ajaran kesetaraan sering dianggap berbahaya oleh penguasa yang zalim. Jika rakyat sadar bahwa mereka setara dengan pejabat di hadapan hukum dan Allah, maka kekuasaan yang sewenang-wenang akan kehilangan legitimasi.

Karena itulah, Manunggaling Kawulo Gusti kerap disalahartikan sebagai ajaran “manusia menjadi Tuhan”, padahal pesan utamanya justru menolak pengultusan manusia.

Penutup

Manunggaling Kawulo Gusti bukan ajaran menyatukan manusia dengan Tuhan. Ia adalah pesan keadilan sosial dalam bahasa budaya Jawa, sejalan dengan nilai dasar Islam.

Hanya Allah yang Maha Tinggi. Selain-Nya, semua manusia adalah hamba : setara di hadapan hukum, setara di hadapan keadilan, dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
ADVERTISEMENT
Designed by IQRANOVA Creativa
ADVERTISEMENT
Designed by IQRANOVA Creativa
ADVERTISEMENT
Designed by IQRANOVA Creativa