Yadullah : Sifat Allah, Dipahami dengan Bijak
Font Terkecil
Font Terbesar
Di dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dengan bahasa yang dekat dan bisa dipahami. Salah satu ungkapan yang sering dibahas adalah “Yadullah”, yang secara bahasa berarti tangan Allah. Pertanyaannya, apakah ini harus dipahami sebagai tangan secara fisik?
Jawabannya : tidak.
Yadullah adalah sifat Allah, bukan anggota tubuh, dan maknanya tidak boleh disamakan dengan makhluk.
Bahasa yang Mengantar Makna, Bukan Membatasi Allah
Al-Qur’an menggunakan bahasa manusia, tetapi Allah tidak dibatasi oleh bahasa itu. Seperti ketika kita mengatakan “kekuasaan ada di tangannya”, kita tidak sedang membicarakan tangan fisik, melainkan kendali dan otoritas.
Ketika Allah berfirman :
“Yadullah berada di atas tangan mereka.” (QS. Al-Fath: 10)
Ayat ini menegaskan bahwa baiat para sahabat kepada Nabi ﷺ berada dalam pengawasan, kekuatan, dan keridaan Allah. Bukan gambaran fisik, melainkan pesan maknawi.
Prinsip Utama : Allah Tidak Menyerupai Apa Pun
Allah ﷻ sendiri menegaskan :
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS. Asy-Syura: 11)
Ayat ini menjadi kunci. Apa pun yang terlintas dalam pikiran manusia tentang bentuk dan rupa, Allah tidak seperti itu. Karena itu, memahami Yadullah secara fisik justru bertentangan dengan prinsip dasar tauhid.
Dua Cara Bijak Ulama Memahami Yadullah
Para ulama Ahlus Sunnah tidak keluar dari ayat dan hadis, namun juga tidak menyerupakan Allah dengan makhluk. Mereka menempuh dua jalan yang sama-sama menjaga kemurnian akidah :
1. Tafwidh
Tafwidh berarti mengimani Yadullah sebagai sifat Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, tanpa membayangkan bentuk atau caranya, dan menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah.
Pendekatan ini menenangkan hati: cukup beriman, tanpa berspekulasi.
2. Ta’wil
Ta’wil adalah memahami Yadullah dengan makna yang layak bagi Allah, seperti kekuasaan, pertolongan, nikmat, atau pengaturan. Dalam konteks ayat baiat, Yadullah dipahami sebagai dukungan dan kekuatan Allah yang menaungi peristiwa tersebut.
Kedua cara ini bukan untuk dipertentangkan. Keduanya lahir dari niat yang sama: mensucikan Allah dari penyerupaan.
Menjaga Keseimbangan dalam Beriman
Islam tidak mengajarkan membayangkan Allah, dan juga tidak mengajarkan menolak ayat-ayat-Nya. Jalan tengahnya adalah :
- Mengimani nash
- Menjaga kesucian Allah
- Tidak melampaui batas akal
Sebagaimana para ulama terdahulu, sikap ini membuat akidah tetap kokoh dan hati tetap tenang.
Penutup
Yadullah adalah sifat Allah, bukan tangan fisik. Baik dipahami dengan tafwidh maupun ta’wil, keduanya sepakat pada satu hal : Allah Maha Suci dari bentuk, anggota tubuh, dan keserupaan dengan makhluk.
Semakin dalam kita memahami ini, semakin kita sadar bahwa Allah tidak untuk dibayangkan,
melainkan untuk diimani dan disucikan.
.png)
