TRENDING POSTS
ADVERTISEMENT
Designed by IQRANOVA Creative

Ketika Takbir Kehilangan Ruh ,: Menggugat Ironi "Hura-Hura" di Hari Raya Kita





Gema itu terdengar lagi. Sebuah bunyi yang seharusnya menggetarkan arsy, membuat air mata menetes, dan menegaskan kembali kebesaran Islam. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Baik di malam Idulfitri maupun di hari-hari tasyrik Iduladha, kalimat thoyyibah ini adalah proklamasi ketundukan total manusia, sebuah simbol betapa perkasanya kekuatan umat ini ketika bersatu mengagungkan nama-Nya.

Namun, coba pasang telinga kita lebih jeli saat momen takbiran tiba. Apakah suara yang mendominasi jagat raya ini benar-benar getaran tulus dari pita suara manusia yang mengagungkan penciptanya? Ataukah hari raya kita telah bergeser wujud menjadi festival bising yang kehilangan ruh spiritualnya?

Cukup menyedihkan ketika kita membuka mata dan melihat realitas di lapangan. Masjid dan musala, yang seharusnya menjadi episentrum gemuruh takbir, justru sering kali melompong sunyi. Di dalam ruangan suci itu, takbir tidak lagi lahir dari lidah-lidah manusia yang basah karena zikir, melainkan didelegasikan pada pita kaset, MP3, atau video internet yang diputar berulang-ulang melalui pelantang suara. Kita mendelegasikan syiar kita pada mesin, sementara manusianya pergi ke mana?

Sebuah Ironi di Jalan Raya

Di luar sana, jalanan macet total. Konvoi kendaraan bermotor mengular, diklaim sebagai bentuk "memeriahkan hari besar Islam." Namun, mari kita bersikap kritis: kebesaran Islam mana yang sedang kita tunjukkan dengan cara berboncengan dengan non-mahram, melanggar aturan, dan saling melempar petasan?

Hari takbir—baik saat menyambut kesucian Idulfitri maupun saat merayakan pengorbanan Iduladha—adalah momentum memperlihatkan taji kekuatan Islam yang beradab dan berwibawa. Namun hari ini, keagungan itu seolah direduksi menjadi sekadar pesta kembang api yang membakar uang, menyisakan asap sesak, dan hura-hura yang jauh dari tuntunan syariat. Nilai-nilai Islam yang santun, tertib, dan menjaga kehormatan diri justru luntur di waktu yang seharusnya paling sakral.

Kita terjebak dalam jebakan "meriah secara visual, namun mati secara spiritual." Kita seakan lebih peduli pada seberapa tinggi kembang api bisa melesat membelah langit, ketimbang seberapa ikhlas kalimat Allahu Akbar kita mampu menembus langit.

Memulangkan Kembali Ruh Takbiran

Jika hari takbir hanya menjadi ajang hura-hura yang melanggar batasan agama, maka kita tidak sedang merayakan hari raya. Kita hanya sedang memindahkan panggung maksiat dan kelalaian ke atas namakan agama. Sebuah ironi yang sangat tragis.

Kekuatan Islam bukan terletak pada bisingnya knalpot konvoi, indahnya warna kembang api, atau kerasnya dentuman petasan. Kekuatan Islam ada pada gemuruhnya takbir yang keluar langsung dari sanubari umatnya, memenuhi ruang-ruang masjid, dan terjaganya akhlak pemuda-pemudinya dari hal-hal yang dimurkai Allah.

Mari kembali ke esensi. Kembalilah ke masjid dan musala, atau hidupkan rumah-rumah kita dengan takbir yang nyata. Basahi lidah kita sendiri. Matikan rekaman audio itu, dan biarkan suara kita sendiri yang bersaksi hari ini bahwa Allah Maha Besar, dan kita hanyalah hamba kecil yang tak berdaya tanpa-Nya. Jangan biarkan hari takbir kehilangan kesakralannya hanya demi kesenangan semu di jalanan.
ADVERTISEMENT
Designed by IQRANOVA Creative
ADVERTISEMENT
Designed by IQRANOVA Creative
ADVERTISEMENT
Designed by IQRANOVA Creative